[FF] Bad Girl (UGLY)

Author : Nissa (Han Neul Rin)
Main Cast :
– Kim Myungsoo (Infinite)
– Park Deyrin
– Lee Donghae (Super Junior)
– Park Jiyeon (T-ara)
– Cho Kyuhyun (Super Junior)
Genre : romance

~#~
-Deyrin pov-
Aku menghela nafasku berkali-kali lalu membetulkan earphone yang terpasang di telingaku dan mulai melangkahkan kakiku masuk ke dalam sekolah. Aku merasakan orang orang mulai melihatku dan membicarakanku. Jangan salah paham. Bukan karena aku salah satu gadis populer atau tercantik disekolah. Tapi karena aku JELEK. Kalau perlu aku tambahkan pencetakan tebal, miring, dan ditambah garis bawah.

Aku memiliki bekas luka bakaran di sekitar mata kiriku dan itu membuatku. Yah, JELEK.
“Eonni, jangan diperhatikan.”
Seseorang memegang tanganku erat seakan menghantarkan energi positif kepadaku. Dan perlahan lahan aku mulai merasakan orang orang sudah tidak memperhatikanku lagi.
“Kau melakukannya lagi, Jiyeon-ah. Sesungguhnya itu tidak perlu.” Bisikku.
“Tidak apa apa, eonni. Hanya sedikit menghilangkan eksistensimu itu tidak masalah.” Ucapnya sambil tersenyum.
Ia melepaskan pegangannya dan terbang ke langit langit sekolah.
“Hoah! Disini banyak laba-laba!” pekiknya senang.
Yah, dasar pecinta serangga.
Aku tertawa dibalik rambutku yang memblokade pandangan orang terhadapku. Ia adikku. Adik kandungku. Ia bukan orang yang memiliki kekuatan khusus untuk terbang atau menghilangkan eksistensi. Tapi, karena ia adalah hantu. Seperti kita tau, hantu memiliki kekuatan tersendiri yang bisa membuat meeka seperti itu. ia sudah meninggal 7 tahun lalu. Saat kebakaran besar yang melanda rumahku. Kebakaran yang juga membuatku memiliki luka bakar ini.
Saat kebakaran itu kami berada di dalam rumah. Orang tua kami sedang keluar. Kami menerobos api, mencoba menyelamatkan diri. Tapi, sia sia. Kami terjebak dalam api. Jiyeon kehabisan nafas dan pingsan. Aku mencoba mengangkatnya dan tiba tiba sebuah balok kusen rumahku runtuh. Ia terbakar dalam kebakaran itu. dan meninggal disana. sedangkan aku, diselamatkan oleh pemadam kebakaran. Dan ambulan langsung membawaku kerumah sakit.
Aku sempat membenci diriku karena aku tidak bisa menolongnya. Walaupun orang tuaku sudah mengatakan tidak apa apa dan memang sudah takdir. Itu tetap saja. Tapi, beberapa hari kemudian ia datang. Menunjukkan dirinya kepadaku. Aku kira aku gila. Tapi, ia bilang aku tidak gila. Ia nyata. Ia disini karena ia belum tenang. Ia belum tenang jika ia belum melihatku bahagia. Yah, adik yang baik.aku bersyukur ia bukan kembali karena ingin membalas dendam kepadaku.
Apa aku cerewet ? mungkin iya.
Oh, iya. Aku tidak mau menghilangkan bekas luka ini karena kau belum siap. Aku merasa tidak enak kepada Jiyeon.
~#~
Aku meletakkan tasku meja dan duduk dikursi. Bel sudah berbunyi dan saatnya menunggu guru masuk.
Wali kelasku masuk dengan seseorang dibelakangnya.
“Murid baru” dengusku.
Jika ada murid baru, berarti orang yang mengejekku akan bertambah bukan?
Ia memperkenalkan dirinya. Siapa namanya tadi? Kim.. Kim siapa ?
Ia seorang namja. Dengan bola mata hitam kecoklatan yang lembut namun ada kesan keras didalamnya, berkulit putih, namun ia tidak terlalu tinggi. Dan poin yang paling penting adalah, ia sangat tampan. Sepertinya ia akan menjadi idola baru disekolah ini setelah Lee Donghae. Orang yang beruntung.
Aku sibuk berkutik dengan IPhoneku sendiri sampai tidak sadar seseorang berdiri di samping mejaku dan memperhatikanku. Seperti, menungguku untuk menyadari kehadirannya.
“eh!” pekikku kaget saat melihat anak baru itulah yang berdiri disana.
“Halo.. Ehmm, aku Kim Myungsoo. Kalau boleh ku ulangi. Karena, sepertinya kau tidak begitu memperhatikan perkenalanku tadi didepan.” Ia tersenyum. Dan aku merasakan seluruh anak perempuan yang melihat kejadian barusan menahan nafasnya sesaat.
Aku mengangguk dan melihatnya dari atas kebawah dengan sebelah mataku.
“Errr.. apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyaku ragu.
“Aku? Aku ingin duduk bersamamu disini kalau boleh.” Ia tersenyum dengan mata berbinar.
“Apa? Tapi, tempat duduk Yekyung juga kosong.” Ucapku pelan. Bukan bermaksud mengusirnya. Aku hanya tidak percaya ia mau duduk disini.
“Aku ingin disini. Tidak enak jika terlalu didepan. Bolehkah?”
“Errr… Silahkan duduk kalau begitu. Nyamankan dirimu disini.”
Ia mengangguk dan menarik kursi kebelakang agar ia bisa duduk.
Aku memperhatikannya sesaat dan menoleh ke depan kelas kembali.
“Siapa namamu?”
Aku menoleh kesamping. Ia melihatku dengan pandangan ingin tau.
“Park Deyrin”
“Park Deyrin ?”
Aku mengangguk dan tersenyum karena ia menyebutkan namaku dengan benar.
~#~
“Deyrin-ah, bisa kau menemaniku ke kantin? Aku tidak tau dimana.” Pinta Myungsoo saat bel istirahat berbunyi.
Aku mengangguk pelan.
Ia tersenyum. “AYO!”
Aku hendak berdiri. Namun, anak anak perempuan dikelasku sudah mengelilingi Myungsoo yang berdiri disamping ku.
“Myungsoo-ah, mau ke kantin?” tanya seorang anak perempuan bernama Hyejin.
Aku duduk kembali di kursiku.
Myungsoo melihatku dengan pandangan meminta maaf dan terseret dalam arus perempuan yang membawanya ke kantin.
~#~
Aku mengetuk ngetuk meja dengan bosan. Kurang perduli dengan keributan yang terjadi didepan. Rapat kelas. Untuk menentukan apa yang akan kami tampilkan pada pentas seni nanti. Dan ini adalah hal yang kubenci.
Mereka, melontarkan pendapat pendapat yang bagiku terdengar biasa dan kosong. Aku mendengus kesal. Aku sudah tidak tahan lagi!
Akhirnya, aku berdiri untuk menyuarakan apa yang aku pikirkan.
Hening.. Keadaan kelas menjadi hening. Seperti baru saja ada hantu yang lewat.
mereka menatapku dengan pandangan seolah olah aku adalah makhluk luar angkasa.
Salah satu gadis yang termasuk dalam kategori paling cantik di kelasku, berdiri.
Mata mereka beralih kearahnya.
“Ada apa? Rihan-ssi?” tanya ketua kelas pada gadis itu, Kim Rihan.
Sial. Lagi lagi aku dipinggirkan. Semua orang memang sama. Lebih, memilih mendengarkan yang cantik daripada yang jelek seperti aku ini. aku menghela nafas dan duduk kembali.
BRUAK
Aku menoleh kesamping kananku dengan kaget karena suara meja yang dipukul tadi.
“Kau! Kau tidak lihat apa? Deyrin berdiri tadi! Ia ingin mengeluarkan pendapat. Dan kau malah lebih mendahulukan anak itu? ketua kelas macam apa kau ini?!”
Mulutku setengah terbuka karena apa yang dilakukan Myungsoo barusan. Ia.. Membelaku?
“T-tenang Myungsoo-ssi. B-baiklah, Deyrin-ah, apa yang ingin kau katakan tadi?”
Myungsoo melihatku dengan tatapan yang memberi semangat.
Aku berdehem dan berdiri.
“Bagaimana kalau kita membuat drama?”
Lagi lagi hening..
Apa semua yang aku pikirkan dan lain lainnya itu salah? Sehingga hening seperti ini?
“Drama? Drama si buruk rupa maksudmu?” ucap Rihan dengan nada meremehkan.
Seisi kelas tertawa.
Aku mengepalkan tanganku marah. Tapi, tiba tiba seseorang menggenggam tanganku dan menarikku keluar dari kelas. Myungsoo.
Aku tersentak dan menarik tasku agar ikut bersamaku.
“gomawo.” Ucapku pelan.
“Tidak masalah.” Balasnya.
“Mau kuantar pulang? dimana rumahmu?” tawar Myungsoo.
Aku menggeleng. “Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.”
~#~
Aku duduk di atap sekolah untuk menghabiskan waktu istirahat seperti biasanya. Alunan lagu mengalun dari headset yang terpasang di telingaku.
2NE1-Ugly
Aku menoleh ke samping karena tiba tiba seseorang melepas earphone ku.
“YA!”
“Kau, dari tadi kupanggil tidak menanggapi.” Myungsoo mengerucutkan bibirnya.
“Ada apa?” tanyaku.
“Aku mencarimu sejak tadi untuk menagih hutang.”
“Hutang?” aku mengernyit.
“Iya, hutang. Aku kemarin menolongmu. Dan aku sekarang meminta balasan karenanya.” Ucapnya sambil nyengir lebar.
“Pamrih.” Sungutku.
“Haha.. Tidak susah kok. Kau hanya perlu mentraktir es krim. Bagaimana?”
~#~
“Cepat habiskan es krimmu. Nanti meleleh.” Suruhku.
Ia tertawa dan mengalihkan tatapannya dariku.
“Aku tidak suka kalau ponimu menutupi mata kirimu seperti itu.”
Tanpa sadar aku menyentuhnya. Ia memegang tanganku sambil menatap mataku.
Dan ia sudah menyibakkan rambut yang menutupi lukaku.
“Cantik” bisiknya.
Aku terdiam. “M-Mwo?”
“Cantik.” Ucapnya sekali lagi sambil tersenyum manis.
“Cantik?’ ulangku.
“Lukamu membuatmu makin cantik.”
“Kau gila.” Aku mendorongnya menjauh.
“Tidak, aku sungguh sungguh.”
~#~
Aku duduk di atap sekolah sambil setengah melamun mengingat apa yang dilakukan Myungsoo saat makan eskrim kemarin. Wajahku menghangat.
“EONNI!!” teriak Jiyeon yang tiba tiba muncul.
“Jiyeon-ah, kemarin kau tidak kelihatan. Kau kemana?”
Jiyeon merengut. “Aku tidak bisa kemana mana karena Kyuhyun terus mengikutiku.”
“Kyuhyun? Siapa?”
“JIYEON-AH!!” panggil seorang hantu laki laki yang muncul dari belakang Jiyeon.
“Itu Kyuhyun?” tebakku.
Jiyeon mengangguk.
“Apa lagi?” tanyanya pada Kyuhyun dengan nada kesal.
“Kau kemana saja. Tiba tiba menghilang.” Rajuk Kyuhyun.
“Enyahlah Kyuhyun! Sudah cukup kemarin kau mengikutiku. Aku ingin tenang sekarang. Enyah!”
Kyuhyun mengacuhkannya. “Kau siapa? Bisa melihat kami?” tanya Kyuhyun kepadaku.
“Aku? Aku eonninya Jiyeon.” Jawabku sambil tersenyum.
“Kalau begitu. Hai noona..” sapanya dengan nada ceria.
“Kyuhyun-ah.” Jiyeon menghela nafas.
“Bisakah kau pergi dulu. Sungguh, jangan mengikutiku. Aku lelah.”
Aku tertawa melihat kedua hantu ini.
“Deyrin-ah? Kau tertawa sendiri?”
“Myungsoo? Sejak kapan kau disini?”
“Sejak tadi, sejak kau mulai bicara sendiri.”
“Eonni, dia siapa?” tanya Jiyeon.
“Teman sekelasku.” Jawabku dengan berbisik.
“Baru?”
Aku mengangguk.
“Hish.. baru dua hari tidak melihat eonni sudah ada tokoh baru. Gara gara Kyuhyun.” Frustasi Jiyeon.
Aku tertawa lagi.“Tokoh baru?”
“Deyrin-ah, Kau sungguh membuatku khawatir karena tertawa dan bicara sendiri. jangan bilang kau sudah gila. aku bisa ikut gila juga.”
Aku menanggapi perkataan Myungsoo dengan tatapan tajam.
“Eonni, maaf sekali. Aku pergi dulu. Dari tadi si Kyuhyun ini ribut sekali. Aku pusing.”
Aku mengangguk dan melambaikan tangan.
“Kau kenapa sih? Kau bicara dengan hantu ya?”
“Kalau memang iya. Kenapa?”
Myungsoo mengerang. “Sungguh, kau membuatku hampir gila sepertimu juga.”
“Kalau kau tidak mau gila. enyah!”
~#~
“Deyrin-ah!!”
Aih, aku kenal suara ini. Myungsoo. Setiap hari selama 3 bulan ini ia terus mengikutiku seperti ini. sekarang, aku tau bagaimana rasanya Jiyeon yang selalu diikuti Kyuhyun.
“Ada apa, Kim Myungsoo-ssi?” tanyaku sambil menggerakkan bahuku secara tidak nyaman agar ia melepaskan pelukannya di bahuku.
Ia mendesah dan melepaskan pelukannya. Dan berdiri di hadapanku.
“Aku ingin..”
“Ingin apa?”
“Ingin..”
Anak ini membuatku geram saja mendengar ia yang ragu ragu seperti itu.
“ingin apa? Jika tidak kau katakan sekarang. Aku pergi.” Ancamku.
“Tidak!!” ia mengangkat tangannya kedepan. Mencegahku.
“Cepat, Myungsoo-ssi.”
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat besok. bagaimana? Kau mau kan? Kau tidak ada hal yang dilakukankan hari minggu ini?”
Ia mengeluarkan mata berkilauannya dan senyum manisnya. Memohon.
Aku menghela nafas dan mengangguk.
“Yes! Baiklah, jam 7 pagi besok aku menjemputmu. Paii paii!!”
Dia membalikkan badannya dan berlari ke gerbang keluar.
Aku menggeleng gelengkan kepalaku melihatnya.
#
Aku melongo melihat tempat dimana Myungsoo membawaku.
“Ini apa?”
“Tadaaa!! Lapangan basket!!”
“Pabo! Aku juga tau! Apa maksudmu membawaku kesini? Haah..” aku menghela nafas. Ia hanya tertawa lebar.
“Mau main?” tawarnya
“Aku tidak bisa.” Jawabku dan memilih untuk duduk di bangku yang mengelilingi lapangan tersebut.
“Ayolah.. yayaya?”
Sial. Ia mengeluarkan senyumnya lagi. bagaimana aku bisa menolak kalau begini?
Aku mengangguk pasrah.
“Deyrin-ah.. Ayo, ambil bola ini.”
Ia memancingku untuk mengambil bola yang sedang ia drible. Aku menggeleng.
“Aku lelaah Myungsoo..”
Aku mendudukkan diriku di tengah lapangan dan menyeka keringaku. Dan Myungsoo? Ia masih asyik dengan duniannya sendiri. Ia mendrible bola sana sini dan bersorak riang ketika ia berhasil memasukkan bola kedalam ring. Tanpa sadar aku tertawa melihatnya.
Namun, aku terdiam saat ia tersenyum kearahku dengan keringat diwajahnya itu. jujur saja, membuat wajahnya makin tampan.
“Ada apa? Apa yang kau lihat?”
“Tidak ada.” Aku menggelengkan kepalaku dan memalingkan wajahku ke arah lain agar Myungsoo tidak melihat wajahku yang sepertinya memerah ini.
“Mau minum?” tanyanya.
Aku mengangguk asal sambil tetap memalingkan wajahku.
“Aku akan mencari minuman. Mau ikut atau tetap disini?”
“A-aku duduk disini saja.”
~#~
“Kenapa kau membawaku ke lapangan basket?” tanyaku sambil meneguk minuman yang Myungsoo berikan.
“Hmm.. Menurutku romantis saja.” Myungsoo meletakkan telunjuknya di bibirnya. Tanda ia sedang berpikir.
“Berolah raga bersama orang yang aku sayangi. Itu romantiskan?”
“A-apa?” aku tersedak karena perkataannya. Orang yang apa dia bilang tadi?
“Yah, orang yang kusayangi.”
Ia menatap mataku sambil tersenyum. Senyumannya itu membuatku meleleh seketika.
Ia menyibakkan poniku tanpa kusadari.
“Sungguh, aku suka sekali dengan luka ini.”
~#~
“YA!” Rihan mendorongku ke dinding koridor.
“Ada apa?” tanyaku dengan santai.
“Kau! Jauhi Myungsoo. Dia milikku.”
“Milikmu? Bisa aku melihat surat kepemilikannya?”
Jihan menggeram marah.
“KAU! KAU SADAR! KAU ITU JELEK! KAU TIDAK PANTAS UNTUK MYUNGSOO!”
Aku balik mendorong Rihan ke dinding seberangku.
“Dengar ya Kim Rihan. Aku tau aku jelek. Dan, jangan salahkan aku. Karena memang Myungsoo yang mendekatiku.” Aku semakin merapatkannya ke dinding.
“YA! JAUHKAN DIA DARIKU!” Rihan berteriak.
Dan aku merasakan tubuhku tertarik ke belakang. Qri dan Eunjung yang menarikku ternyata.
“Shis.. pengikut Rihan.” Ejekku.
“Kau!” Eunjung siap siap melayangkan tinjunya kepadaku.
Namun, tangannya tertahan diudara.
“Jangan kau dekati Deyrin. Atau wajahmu yang cantik itu akan kuhancurkan.”
“Myungsoo ?.” Panggilku.
Ketiga orang itu kabur begitu saja. Setelah tertangkap basah oleh Myungsoo.
“Kau tidak apa apa?” Myungsoo membantuku berdiri.
“Aku tidak apa apa.”
“Dasar. Orang orang itu.”
Myungsoo membersihkan debu dipundak dan bajuku.
“Cukup Myungsoo.”
“Apa?”
“Cukup. Kau melakukan ini terhadapku. Semakin membuat posisiku terlihat nyata bahwa aku jelek. Jadi, enyahlah. Hentikan semua. Jadilah seperti yang lain. Sana.. kau perhatikan saja orang orang cantik itu.”
“Deyrin” lirihnya.
~#~
“Eomma” panggilku.
“Ada apa?” eomma ku menurunkan majalah yang sedang dibacanya.
“Bisakah, bisakah bekas luka ini dihilangkan?”
Eomma ku menatapku heran. “Tentu saja. Tantu saja bisa. Ganti bajumu. Kita bertemu dokter Cho sekarang.”
#
Satu minggu kemudian.
Aku meratakan poniku yang sudah pendek dan mengikat rambutku kebelakang.
“Hari baru. Dimulai Deyrin” ucapku pada pantulan diriku dicermin.
~#~
Aku melangkahkan kakiku di koridor sekolah dengan percaya diri. Terang saja, bekas lukaku kini sudah lenyap.
“Deyrin!!” panggil suara yang kukenal. Myungsoo.
Aku tetap berjalan tanpa memperdulikan panggilannya. Aku ingin memberinya kejutan.
“Deyrin!”
Woohyun berhasil mengejarku dan membalikkan tubuhku agar ia bisa jelas melihatku.
Dengan nafas yang belum stabil Myungsoo berkata kata. “Seminggu ini kemarin kau kemana saja. Sungguh, aku bingung kenapa kau tidak datang. Kau membuatku khawatir. Kau..”
Ia menghentikan ucapannya. Sepertinya ia sudah menyadarinya.
“Deyrin, lukamu. lukamu.. menghilang?”
Aku mengangguk semangat. “Bagaimana? Baguskah? Baguskah? Seminggu ini aku mengikuti perawatan yang dapat menghilangkannya.”
Myungsoo terdiam.
“Myungsoo-ssi?” panggilku.
“Eh? Mwo?”
“Kenapa terdiam seperti itu?”
“Tidak. Tidak ada. Bagus kok. Hehe.”
Kenapa anak ini?
~#~
“Ayo masuk!” ajaknya.
Aku menghela nafas dan masuk ke dalam kelas. Suasana yang tadinya riuh menjadi sunyi. Semua orang melihat kearah pintu tempat kami masuk.
Selama beberapa saat akhirnya Rihan berdiri dari tempatnya dan berjalan kearahku dengan raut yang sulit diartikan. Dia, kenapa?
“Deyrin” ia menyebut namaku.
“Ya?”
“Kau mau duduk bersamaku?” ia tersenyum lebar kearahku.
Aku tercengang sejenak.
“Mau!” jawabku cepat.
~#~
Kehidupanku berubah.
Sekarang aku sudah mempunyai banyak teman. Mereka sudah tidak memandangku sebelah mata. Walaupun, ada yang berubah dari Myungsoo. Ia sedikit menjauhiku. Entah kenapa. Atau hanya perasaanku saja bawa ia tidak senang dengan perubahanku ini? hash! Tidak mungkin. ia mengatakan kalau ia senang.
Kenapa aku tidak melakukan perawatan dari dulu saja kalau begini?
“Deyrin, lihat siapa yang datang.” Rihan menyenggol lenganku dan menunjuk kearah pintu.
“Hai, Deyrin-ah.”
Orang yang ditunjuk Rihan tadi sudah berada di depanku.
Aku mengangguk membalas sapaannya.
“Kantin?” tawarnya.
Aku melirik Rihan yang memberiku tatapan mendukung dan sedikit mendorongku.
~#~
“Rihan, kau ada acara sabtu malam nanti?” tanya orang itu.
Apakah aku sudah memperkenalkannya? Sepertinya belum. Namanya Lee Donghae. Lebih sering dipanggil Donghae. seorang laki laki berwajah tampan. Rambutnya berwarna hitam yang dipotong pendek. Tatapan matanya menunjukkan sikap pediam walaupun ia sebenarnya adalah orang yang cukup humoris dan ramah. Donghae juga adalah namja idola di sekolahku.
“Tidak”
“Baguslah. Aku ingin mengajakmu ke pensi bersamaku. Kau mau?”
Aku tersenyum lalu mengangguk.
Kami berdua tidak berkata apapun. Sibuk dengan pikiran masing masing. Biasanya banyak yang dapat kami bicarakan. Aku mengedarkan pandanganku ke sekitar tempat kami duduk. Tiba tiba, aku melihat Myungsoo duduk di dekat jendela, pandangannya mengarah kearahku. Kami bertatap tatapan sejenak.
Caranya melihatku berbeda. Ada kemarahan di matanya, ada kesedihan dan permohonan disana. Walaupun, didominasi oleh kemarahan. Apa ada apa? Kenapa ia begini?
Kami memang jarang berbicara lagi sejak aku duduk bersama Rihan.
~#~
“Myungsoo-ah.” Cegatku saat ia hendak keluar dari kelas.
Ia mengacuhkan panggilanku dan mendahuluiku berjalan ke luar kelas.
“Myungsoo-ah, kau kenapa?”
“Aku tidak apa apa kok.” Jawabnya singkat tanpa melihatku.
“Kau berubah” tuduhku.
“Kau juga.”
“Bukankah kau senang aku sudah berubah sekarang? Aku tidak dikucilkan lagi. kenapa kau malah seperti ini sekarang?”
Aku berhasil berdiri di depannya. Aku merentangkan tanganku agar ia tidak bisa melewatiku.
Woohyun berhenti berjalan. Begitu juga denganku. Ia mengangkat daguku dan mendekatkan wajahnya padaku.
“Aku lebih suka kau yang dulu. Bukan yang sekarang. Kau yang sekarang terlihat palsu dimataku. Aku tidak mengenalmu lagi. aku tidak mengenal Deyrin. kau yang selalu memaksakan diri agar bisa masuk kedalam sebuah populasi yang berisi orang orang populer didalamnya.”
Aku menepis tangannya.
“Kau! Kau dan pendapatmu itu! aku tidak perduli. Aku kira kau temanku yang akan mendukungku. Ternyata. Ternyata kau hanya berpura pura. Teman mana yang tidak senang ketika temanmu bahagia?! Ini yang kuinginkan dari lama! Aku tidak ingin mereka mengacuhkanku lagi! kau tidak tau bagaimana rasanya!! Tanpa aku sadari kau dipuja banyak orang! Sedangkan aku? Aku baru merasakan namanya populer.”
Aku merasakan wajahku memerah karena marah.
“Aku kecewa padamu Myungsoo-ah. Sangat kecewa.”
~#~
Aku mematut diriku di cermin dan tersenyum. Malam ini aku akan pergi ke pentas seni sekolahku bersama Donghae. Dandananku tidak berlebihankan? Hanya memakai kaos,high heels dan celana panjang.
Drrt.. Drrt..
Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.
From: Pabo Myungsoo.
Aku mendesah. Pesan dari si Myungsoo, Pabo Myungsoo.
‘Deyrin-ah, sungguh. Aku minta maaf atas kejadian waktu itu. Aku berharap kau membatalkan janjimu dengan Donghae. Aku mohon. Jangan datang ke pensi. ‘
“Hee? Membatalkan janji dengan Donghae? Tidak akan.’’ Aku membentak ponselku sendiri.
“Deyrin, ada yang mencarimu!!” panggil eomma ku
“YE, eomma!!”
~#~
Pertama kalinya aku datang ke festival seni yang diadakan sekolahku walaupun aku sudah dua tahun bersekolah disini. Aku tidak mungkinkan datang ke festival dengan keadaanku yang lalu?
“Deyrin-ah, ayo kita mendekat ke panggung.” Donghae menarik tanganku.
“Ramai sekali. Aku lebih suka di atap.”
Donghae tertawa. “Diatap membuatku mengantuk. Disini? Kau tidak mungkin tidur disini kan?”
Aku ikut tertawa.
Rihan sebagai MC acara ini naik ke atas panggung.
“Hari ini adalah hari yang spesial. Selain kita akan bersenang senang. Ada yang membuat hari ini spesial.”
Apa maksudnya?
“Hari ini, anak yang tidak pernah datang ke pensi akhirnya datang.”
Woah, ada anak selain aku yang tidak pernah datang kesini?
“Dia kesini dengan percaya diri penuh karena perubahan dalam dirinya.”
Eh?
“Kalian pasti sudah tau dia siapa. Dia adalah Park Deyrin!!!”
Aku tercekat. Apa maksudnya ini?
“SEBAGAI BENTUK APRESIASI DARI KAMI. KAMI AKAN MENAMPILKAN CUPLIKAN DARI PARK DEYRIN SELAMA DUA TAHUN INI.”
Mataku membelalak lebar. Mereka mengerjaiku? Mereka menjebakku? Foto fotoku yang lama yang paling memalukan mereka tampilkan. Aku melirik Donghae yang sudah melihatku dengan seringaian mengejeknya. Tidak hanya dia, semua orang disana melihatku dengan cara yang sama.
“YA! Deyrin-ah! Kau kira setelah kau menghilangkan bekas bakaran itu, hidupmu akan beruubah? He? Kau harusnya sadar bahwa kau itu memang sudah dilahirkan dalam kondisi jelek. Mau kau menghilangkan luka itu, itu tidak ada pengaruhnya. Kau mimpi apa bisa bersama Donghae?”
Entah kapan Rihan sudah berdiri dihadapanku sekarang.
“Rihan-ah.” Lirihku.
“Kau pikir aku mau berteman denganmu? Kau pikir Donghae mau denganmu? Kau mimpi Deyrin!!” Rihan menyeringai.
Ini memalukan. Semua ini memalukan. Tidak adakah yang bisa mereka lakukan selain penghinaan ini? apa mereka tau rasanya menjadi aku?
Aku merasa lemah dan akhirnya terhuyung kebelakang.
“Deyrin-ah.”
Aku merasa diriku didirikan oleh seseorang.
“Ayo pergi!”
~#~
“Sssh.. Sudahlah.”
Myungsoo menepuk nepuk punggungku.
“Mianhae..”
“Iya, sudah sudah.”
“Harusnya aku sadar. Harusnya aku..”
“Sudahlah Deyrin-ah. Semua penyesalan memang datangnya terakhir. Sudah ya.”
Ucapan Myungsoo makin membuatku terisak.
“Myungsoo-ah, mianhae..”
~#~
“Deyrin-ah, ini.”
Myungsoo menyodorkan sekaleng minuman kepadaku dan duduk disebelahku.
“gomawo.”
“Woah! Ini hebat! Sepertinya kita harus sering kesini untuk membuang masalah. Angin pantai akan menerbangkan masalahmu Deyrin-ah”
Ya, kami sedang berada di pantai. Myungsoo yang mengusulkannya untuk menghiburku setelah kejadian itu aku jadi mengurung diri di kamar. Untung ada Woohyun. Jika tidak aku mungkin akan terus terusan dikamar.
“Berdiri Deyrin-ah, ayo kita main ombaak!!”
Myungsoo menarikku agar aku berdiri.
“Hya! Kim Myungsoo!”
Aku terkesiap saat air menciprati wajahku. Tentu saja Myungsoo yang melakukannya. “Rasakan ini!”
Kami saling menciprati air satu sama lain.
“Myungsoo, kenapa kau selalu mengatakan. Eum, kau menyukai bekas lukaku?”
“Karena aku pikir itu adalah hal yang keren. Bagiku wanita yang mempunyai luka itu adalah wanita yang kuat. Apalagi bisa bertahan dengan bekas lukanya itu. kau taukan berapa banyak wanita yang akan mengorbankan uangnya untuk menghilangkan bekas luka.”
Aku tersanjung mendengar ucapannya tersebut.
“Jadi, sekarang aku bukanlah wanita yang kuat tanpa bekas luka itu? kau tidak menyukaiku karena tidak adanya bekas luka itu lagi? maksudku, bukan suka dalam arti ‘itu’ tapi seperti yang kau sebutkan tadi.”
Myungsoo menggeleng.
“Tidak, menurutku kau tetap kuat. Kau kuat sekali dimataku.”
Suara angin dan ombak mengisi keheninganini.
“Tapi, selain bekas luka itu ada hal lain yang kusuka darimu?”
Aku memberikan Myungsoo tatapan bertanya.
“Kau. Aku menyukaimu.”
~#~
“EONNI!!!!”
“Jiyeon-ah. Lama sekali kau tidak berkunjung.” Rajukku.
“Mian, eonni, tapi.. aku tidak ada, kau sudah menemukan kebahagianmu ya?” Jiyeon menggerak gerakkan bola matanya kearah Myungsoo.
Aku tersipu malu.
“Jiyeon-ah, sudah saatnya.”
“Kyuhyun, kau disini juga?”
“Eonni, aku harus pergi, kau sudah bahagia. Jadi aku sudah tenang.”
Aku mengangguk dan memeluk Jiyeon.
“Terima kasih Jiyeon-ah.”
Aku melambaikan tanganku pada Jiyeon yang semakin lama semakin terkikis menjadi udara kosong disekitarnya.
“Deyrin-ah, jadi kau sekarang tidak akan berbicara sendiri kan? Kau menakutkan.”
Myungsoo mengerucutkan bibirnya.
“Kalau begitu. ENYAH!” seruku kepada Myungsoo.
“Tidak mauuu!!!”
Myungsoo menarikku dalam pelukannya.
-Deyrin pov end-
-END-

Share by bapfiniteina

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • %d blogger menyukai ini: